Terimakasih Multiply

Multiply. Pada awalnya situs itu adalah sebuah layanan blog dengan memiliki berbagai macam fitur yang berlimpah. Bahkan beberapa fitur yang digunakan Google Plus pun sejatinya sudah dimiliki oleh Multiply namun dengan intuitive interface yang berbeda. Kemudahan penggunaan fitur-fitur yang dimiliki akhirnya banyak disukai kalangan blogger sehingga tercipta satu ekosistem blog yang lengkap dengan komunitasnya. Walau akhirnya kalah bersaing dengan penyedia layanan blog lainnya seperti wordpress dan blogspot namun multiply tetaplah eksis.

Eksistensi ini ternyata didukung oleh banyaknya para penjual online yang menggunakan fitur-fitur blog untuk berjualan. Kemudahan sharing dan berbagi informasi di dengan platform Multiply menjadi senjata ampuh bagi ribuan penjual online shop untuk berjualan disana.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh pemilik Multiply waktu itu untuk menyiapkan platform berjualan online secara baik dan benar. Dan akhirnya di tahun 2010 Multiply memiliki suntikan dana segar seiring dengan masuknya investor baru, Naspers (www.naspers.com). Dimana mereka memiliki beberapa usaha e-commerce di berbagai negara.

Dengan melihat potensi market yang sangat tinggi di Indonesia dan Philiphina, Multiply memutuskan untuk focus di kedua negara tersebut. Di tahun yang sama dengan masuknya investor baru ke Multiply, mereka pun membuka cabang di dua negara yaitu Indonesia dan Philipina.

Berbagai program dan mekanisme jualan on-line dilakukan oleh Multiply. Tujuannya adalah mendorong perubahan perilaku belanja online di Multiply yang masih tradisional beralih menjadi konsep Marketplace. Tentunya hal ini tidaklah mudah bagi jajaran team Multiply Indonesia, karena bagi para penjual atau pembeli mereka sudah merasa “cukup” dengan konsep jualan online yang ada. Namun berbagai gimmick dan program secara perlahan berhasil merubah kebiasaan tersebut. Para penjual mulai terbiasa dengan transaksi menggunakan marketplace. Pembeli mulai ter-edukasi bagaimana ber-transaksi online yang seharusnya.

Kerjasama dengan beberapa korporasi pun dilakukan oleh Multiply. Entah itu dengan penyedia barang-barang elektronik, gadget, perusahaan jasa komunikasi hingga dealer sepeda motor. Dengan memberikan diskon-diskon tambahan yang hanya bisa didapatkan di Multiply.

Tak terhitung berapa banyak program-program yang digulirkan Multiply, termasuk membebaskan biaya transaksi untuk setiap transaksi yang terjadi. Dimana biasanya inilah yang menjadi salah satu pemasukan dari para pemain e-commerce (perlu dicatat bahwa ada biaya yang ditagihkan ke Multiply oleh bank penyedia pembayaran online). Terakhir Multiply memberikan program “Gratis Ongkos Kirim Selama 1 tahun”. Dan ini menjadi daya tarik yang tidak dimiliki oleh penyelenggara e-commerce lainnya di Indonesia. Beberapa rekan yang biasa berjualan online di Multiply bercerita betapa dia senang bisa berjualan di Multiply karena transaksi penjualannya meningkat akibat program ini. Pembeli juga merasa diuntungkan karena tidak perlu mengeluarkan ongkos kirim untuk barang-barang yang dibeli.

Semua program-program yang dilakukan oleh Multiply benar-benar bertujuan agar masyarakat  Indonesia terbiasa bertransaksi e-commerce secara baik dan benar walau itu menjadi beban dan cost tersendiri bagi Multiply.

Ya, kondisi masyarakat yang masih lebih senang melakukan transaksi secara langsung antara penjual dan pembeli walau media pertemuannya adalah secara online. Latar belakang ini yang nampaknya dilihat oleh Multiply sehingga mereka sangat berani dan sangat agresip untuk melakukan edukasi merubah prilaku transaksi online. Walau dengan resiko cost yang menjadi semakin tinggi.

Mengapa Multiply sedemikian agresipnya? Itu karena Indonesia merupakan pasar yang sangat memiliki prospek untuk bisnis e-commerce jika dilihat dari jumlah populasi, penetrasi internet dan daya beli. Namun berbagai potensi tersebut tidaklah cukup berarti jika memang budaya ber-transaksi e-commerce belum terbentuk.

Multiply juga tercatat sebagai motor untuk pendirian asosiasi penyelenggara e-commerce, IDeA (Asosiasi E-commerce Indonesia / www.idea.or.id). Bersama beberapa pemain e-commerce lainnya Multiply aktif membuka pembicaraan agar terbentuk asosiasi ini. Ya, asosiasi ini sangat penting sebagai self-regulator atas bidang usaha yang belum secara khusus diberikan regulasi oleh pemerintah.

Namun hari ini, Jum’at 26 April 2013 secara mengejutkan Multiply mengumumkan akan menutup layanan nya. Tanggal 6 Mei 2013 adalah akhir dari keberadaan penjualan online Multiply. Dan mereka akan melakukan pemberesan hak dan kewajiban terhadap para share holders nya (penjual, pembeli dan partners) hingga tanggal 31 Mei 2013.

Ini merupakan berita yang sangat menyedihkan. Menyedihkan bagi geliat bisnis e-commerce di Indonesia. Karena banyak kalangan (termasuk saya) mempercayai bahwa ini adalah era kebangkitan dot com 2.0. Setelah era dot com pertama melanda negeri ini di awal tahun 2000-an dimana satu persatu para pemain tumbang dengan sendirinya. Namun saya dan banyak pihak tentunya tidak menginginkan hal tersebut kembali terjadi. Karena saya secara pribadi masih yakin bahwa bisnis e-commerce cukup menjanjikan di Indonesia dan tentu dengan segala penyesuaian dengan budaya masyarakat Indonesia.

Ini juga menjadi catatan tersendiri bagi kita dalam ber-perilaku online. Sudah selayaknya kita mulai mempercayai dan membiasakan diri untuk bertransaksi online sebagaimana mestinya. Karena dengan dukungan kita semua semua bisnis e-commerce akan berjalan dan tumbuh secara sehat. Tidak hanya memanfaatkan moment-moment promo, gratis dan diskon yang signifikan. Namun jika memang prilaku kita terus hanya sebatas “free hunter” maka niscaya ekosistem bisnis yang diharapkan tidak akan tercipta sebagaimana mestinya.

Terimakasih banyak bagi para pelaku online dan e-commerce yang sudah bersusah payah membangun bisnis e-commerce di Indonesia. Secara khusus saya ucapkan terimakasih kepada Multiply yang telah bersusah payah memberikan edukasi dan pembelajaran mengenai transaksi e-commerce sebagaimana mestinya. Semoga hal ini bermanfaat bagi kita semua khususnya masyarakat Indonesia.

Penulis:

Dolly Surya Wisaka (@DollySW)

Pengguna Dan Pemerhati Dunia Internet